Setiap Rabiul Awal tiba, masjid dan madrasah ramai dengan lantunan shalawat. Begitu juga Pelajar Nahdlatul Wathan melaksankan peringatan maulid nabi di mana-mana setiap tahunnya. Namun pertanyaannya: setelah acara selesai, apa yang berubah dari diri kita?
Bagi Pelajar Nahdlatul Wathan, Maulid seharusnya bukan hanya seremoni tahunan. Ia harus menjadi “laboratorium akhlak”. Menjadi momentum Melatih Kepekaan diri terhadap Masyarakat, agar menjadi pengingat bahwa iman tanpa empati adalah iman yang pincang.
Kita sering bangga dengan hafalan, nilai, dan prestasi akademik. Tapi seberapa peka kita ketika melihat teman di kelas yang tidak bisa bayar SPP? Seberapa peduli kita saat melewati pengemis di lampu merah? Seberapa cepat tangan kita terulur ketika tetangga tertimpa musibah?
Rasulullah SAW yang kita puji di Maulid adalah sosok yang paling peka. Beliau menangis karena umatnya. Beliau membelah roti untuk orang lapar. Beliau mengunjungi Yahudi yang sakit padahal sering menyakitinya. Kepekaan itu lahir dari cinta. Dan cinta kepada Nabi harus dibuktikan dengan mencintai umatnya.
Nahdlatul Wathan, melalui wasiat Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sejak awal memang bukan organisasi yang apatis. “Berjuang untuk Agama, Nusa, dan Bangsa” berarti kita tidak boleh hidup di menara gading. Pelajar NW harus jadi jembatan antara pesantren dan masyarakat.
Lalu bagaimana melatihnya? Kepekaan tidak turun dari langit. Ia dilatih.
Dalam kegiatan Peringatan maulid nabi dan hari-hari besar Islam lainnya mari kita belajar.
Pertama, latih mata untuk melihat. Kita melihat bagaimana realitas yang ada, apa permasalahan yang tengah di alami oleh masyarakat
Kedua, latih tangan untuk memberi. Bakti sosial saat Maulid jangan jadi agenda wajib yang dipaksakan. Jadikan budaya.
Ketiga, latih lisan untuk menyapa. Dakwah hari ini bukan ceramah di mimbar. Dakwah adalah senyum ke tukang sampah, membantu orang-orang disekitar, dan tidak membully sesama.
Peringatan Maulid tahun ini mari kita jadikan titik balik. Jangan tanya “acara Maulidnya kapan?”. Tapi tanya “setelah Maulid, aku bisa berbuat apa untuk masyarakat?”
Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dan itulah Maulid yang sesungguhnya. Bukan hanya memperingati kelahiran Nabi, tapi melahirkan kembali akhlak Nabi dalam diri kita.