Keberlanjutan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh keberhasilan proses regenerasi kadernya. Kita semua sepakat bahwa kader yang berkualitas tidak lahir secara kebetulan, melainkan melalui proses pengkaderan yang sistematis dan terarah.
Berbagai organisasi kepemudaan dan pelajar besar di Indonesia, seperti HMI, PMII, GMNI, IPNU, IPM, dan lainnya, telah membuktikan hal ini. Mereka memiliki kurikulum kaderisasi yang jelas, berjenjang, dan dijalankan secara konsisten. Karena itulah, wajar jika organisasi-organisasi tersebut mampu melahirkan kader yang kuat dari sisi kualitas, bukan hanya kuantitas.
Hal serupa juga kita lihat pada dua organisasi kemasyarakatan besar, NU dan Muhammadiyah. Keduanya memiliki badan otonom yang menjadi kawah candradimuka sejak usia dini. Muhammadiyah memiliki IPM dan IMM. NU memiliki IPNU, IPPNU, dan PMII. Roda kaderisasi di tubuh mereka berjalan masif, terstruktur, dan berkelanjutan.
Nahdlatul Wathan sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan besar di Indonesia juga memiliki badan otonom yang berfungsi sebagai wadah pengkaderan sejak dini. Namun, penulis melihat bahwa pelaksanaan kurikulum kaderisasi di beberapa badan otonom Nahdlatul Wathan belum berjalan optimal jika dibandingkan dengan organisasi lain.
Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (IPNW) merupakan salah satu badan otonom NW yang bertugas menghimpun pelajar Nahdlatul Wathan di berbagai wilayah Indonesia.
Saat ini, proses kaderisasi di IPNW masih jauh dari ideal. Tantangan utama adalah belum adanya keseragaman kurikulum. Materi dan pola kaderisasi yang dijalankan di satu daerah seringkali berbeda dengan daerah lain. Kondisi ini seharusnya segera menjadi perhatian serius pimpinan IPNW di tingkat pusat agar ada standarisasi yang mengikat seluruh jenjang kepengurusan.
Pola kaderisasi yang jelas dan terstruktur akan melahirkan kader-kader yang berkualitas. Oleh karena itu, IPNW sebagai badan otonom Nahdlatul Wathan perlu segera memiliki kurikulum kaderisasi yang baku. Tujuannya jelas: untuk menjamin keberlanjutan IPNW dan Nahdlatul Wathan ke depan.
Kenyataan di lapangan menunjukkan banyak pimpinan, khususnya di tingkat kecamatan, yang menjalankan roda organisasi dengan terbatas karena tidak adanya acuan kaderisasi yang jelas. Mereka berharap agar pola kaderisasi segera diperjelas, karena diyakini akan sangat membantu keberlangsungan organisasi.
Dengan adanya kurikulum kaderisasi yang jelas, kita dapat berharap lahirnya kader-kader yang unggul secara kuantitas, kualitas, dan spiritualitas, serta kompeten di berbagai sektor. Jika hal ini terwujud, maka kita tidak perlu ragu untuk mendistribusikan kader-kader IPNW untuk mengisi struktur organisasi maupun ruang-ruang strategis lainnya. Mereka akan siap, dan bangga mengakui dirinya sebagai kader Nahdlatul Wathan.
Oleh: Gunawan safutra
Edit by: Tim media IPNW Lombok Tengah