LOMBOK TENGAH – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (PD IPNW) Kabupaten Lombok Tengah menggelar kegiatan _Leadership Coaching_ bertajuk “Persiapan Menuju Pemimpin yang Lebih Peka”, Sabtu (27/09/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Ketua Formatur Pimpinan Cabang (PC) IPNW se-Lombok Tengah. Mereka merupakan calon-calon pemimpin di tingkat kecamatan yang nantinya akan menjadi motor penggerak organisasi di wilayah masing-masing.
Ketua PD IPNW Lombok Tengah dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk menjawab tantangan kepemimpinan hari ini. Menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya cerdas secara intelektual dan terampil berorganisasi, tetapi harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
“Kita tidak butuh pemimpin yang hanya pandai berpidato di atas panggung, tapi abai terhadap kondisi anggotanya. Pemimpin IPNW harus peka. Peka terhadap masalah pelajar, peka terhadap kondisi pesantren, dan peka terhadap persoalan masyarakat,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menambahkan, tema kepekaan dipilih sebagai respons atas berbagai persoalan yang terjadi di Lombok Tengah belakangan ini. Pelajar NW, kata dia, harus mampu menjadi penyeimbang – menjadi bagian dari solusi, bukan menambah masalah.
Dalam sesi coaching, peserta dibekali tiga materi utama kepemimpinan. Pertama, _Self Awareness_ atau kemampuan mengenali diri dan mengendalikan ego sebagai pemimpin. Kedua, _Social Awareness_ atau kepekaan membaca situasi sosial dan kebutuhan anggota. Ketiga, _Servant Leadership_ atau paradigma pemimpin sebagai pelayan, bukan untuk dilayani.
Kegiatan yang berlangsung dua jam, kegiatan diisi dengan berdiskusi, studi kasus, dan simulasi penyelesaian masalah organisasi. Suasana terlihat antusias, para peserta saling bertukar gagasan tentang bagaimana membangun PC IPNW yang solid dan responsif di kecamatan-kecamatan.
Melalui _Leadership Coaching_ ini, PD IPNW Lombok Tengah berharap seluruh Ketua Formatur memiliki visi yang sama sebelum dilantik secara resmi. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin administratif, tetapi menjadi pemimpin yang _rahmatan lil ‘alamin_ – hadir membawa manfaat, dan dicintai karena kepekaannya.