Dalam buku Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie menuliskan bahwa lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Ia bermimpi tentang pemuda yang bukan sekadar pengisi organisasi, melainkan manusia baru: yang berani jujur, tidak takut pada dirinya sendiri, tidak dijual oleh jabatan, dan tidak mabuk oleh pujian. Bagi Gie, pemuda sejati adalah penjaga moral bangsa yang tidak diam melihat ketidakadilan, tidak terbuai kata-kata manis, dan tidak takut berjalan sendirian demi kebenaran. Semangat inilah yang menjadi cermin tajam bagi kita saat merenungkan kondisi Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan yang kini berdiri di ambang kehilangan jati dirinya sendiri.
Soe Hok Gie tidak menuntut pemuda yang sempurna. Ia sendiri ragu, kesepian, dan sering bertanya ke mana arah langkahnya. Namun ia menegaskan ciri manusia baru: berani jujur meski suara sendiri terdengar sepi, menolak kemunafikan baik di dalam maupun di luar organisasi, bekerja nyata bukan sekadar berteriak slogan, menjaga jarak dari kekuasaan agar idealisme tidak luntur, dan belajar bukan untuk ijazah melainkan untuk memanusiakan manusia. Inilah standar yang justru semakin mendesak kita tanyakan kembali kepada diri kita saat ini.
IPNW hari ini sedang berada di persimpangan yang tidak menentu. Jati diri yang dulu ditanamkan pendirinya perlahan memudar, digantikan oleh rutinitas seremonial yang menyita waktu namun menyisakan kekosongan. Undang-Undang Organisasi yang seharusnya menjadi pedoman jelas masih kabur dan tidak dipahami sepenuhnya oleh pengurus maupun kader, sehingga aturan berubah menurut selera mereka yang berkuasa saat itu. Sistem kaderisasi yang seharusnya melahirkan pemimpin yang berilmu dan berakhlak belum berjalan dengan jelas, sehingga kita melahirkan orang yang pandai berpidato tetapi lemah dalam pemahaman organisasi dan pengabdian. Bahkan kejelasan jenjang karir kader pun masih samar, sehingga yang maju bukan yang paling mampu dan paling mengabdi, melainkan yang paling dekat dengan lingkaran kekuasaan. Ketidakjelasan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan luka yang perlahan menggerogoti kepercayaan dan membunuh semangat kader yang tulus.
Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan Nahdlatul Wathan bukan untuk membentuk sekumpulan pengikut yang diam, melainkan generasi yang terbangun dari akhlak, ilmu, dan pengabdian. Seruannya bangkitlah siang dan malam adalah panggilan untuk menjadi manusia baru versi IPNW. Bukan manusia baru yang tercipta dari slogan atau seragam, melainkan dari kesadaran bahwa organisasi ini adalah ladang pengabdian, bukan tangga menuju popularitas. Namun ketika aturan main tidak jelas, ketika jalur kaderisasi tidak transparan, ketika jenjang pengabdian tidak dihargai secara adil, maka yang tumbuh bukan pengabdian tulus, melainkan kepentingan pribadi dan kelompok.
Manusia baru IPNW adalah mereka yang menuntut ilmu bukan sekadar menumpuk nilai, melainkan membekali diri agar mampu berpikir, berbicara, dan berdiri di atas kebenaran. Soe Hok Gie mengkritik kaum terpelajar yang memilih aman daripada jujur. Ilmu tanpa keberanian adalah beban, bukan cahaya. Bagi kader IPNW, ilmu adalah tanggung jawab. Semakin banyak yang kau ketahui, semakin besar pula tanggung jawabmu untuk mewujudkan keadilan dan kebaikan di sekitarmu. Termasuk berani menegur ketika organisasi mulai melenceng dari jalur yang ditetapkan pendirinya.
Manusia baru IPNW berani memegang kebenaran meski sendirian. Soe Hok Gie menyadari bahwa kebenaran tidak selalu populer, tetapi itulah yang wajib diperjuangkan. Manusia baru tidak ikut arus jika arus itu salah. Tidak takut berbeda jika perbedaan itu di jalan Allah. Tidak diam melihat ketidakjelasan aturan, ketidakpastian sistem kaderisasi, dan ketidakadilan dalam jenjang karir. Ia justru paling lantang menuntut kejelasan karena ia tahu, organisasi tanpa aturan yang jelas ibarat kapal tanpa kompas yang hanya akan terombang-ambing dan akhirnya karam. Keberanian ini bukan berarti keras kepala, melainkan kesetiaan pada prinsip yang melebihi rasa takut pada penolakan.
Manusia baru IPNW bekerja nyata, bukan hanya retorika. Soe Hok Gie menolak demonstrasi yang hanya berteriak tanpa karya. Ia justru mengajak membersihkan jalanan Jakarta — tindakan kecil yang nyata. Demikian juga di IPNW: manusia baru bukan yang paling lantang berbicara saat musyawarah, melainkan yang paling awal hadir saat pekerjaan menanti. Bukan yang paling bangga dengan jabatan, melainkan yang paling rendah hati melayani. Namun pengabdian yang tulus menjadi sia-sia ketika sistem tidak jelas, sehingga orang yang bekerja keras dipinggirkan sementara yang pandai berbicara diangkat tinggi. Manusia baru lahir untuk mengubah hal ini, agar pengabdian dihargai, kerja nyata diutamakan, dan sistem menjadi cermin keadilan organisasi.
Manusia baru IPNW mencintai organisasi tetapi tidak menjual dirinya demi kedudukan. Soe Hok Gie memperingatkan bahwa bahaya terbesar bagi pemuda bukan penindasan dari luar, melainkan kemunafikan dari dalam. Jika keanggotaan membuatmu diam melihat ketidakjelasan aturan, sistem kaderisasi yang kabur, dan jenjang karir yang tidak pasti, maka kamu bukan pelindung organisasi, melainkan pelindung kemunafikan. IPNW berdiri untuk nilai-nilai luhur, bukan untuk melestarikan kekacauan dan ketidakpastian. Kesetiaan pada organisasi harus sejalan dengan kesetiaan pada kebenaran dan kejelasan sistem.
Manusia baru IPNW berakar pada nilai, bukan pada tren. Soe Hok Gie tidak terombang-ambing ideologi yang lewat. Ia berpegang pada keadilan dan kemanusiaan. Demikian juga kita: berpikir modern tetapi tidak kehilangan jati diri. Mengikuti perkembangan zaman tetapi tidak melupakan akar yang menanamkan kita di tanah ini. Kita menuntut pembaruan sistem, kejelasan aturan, dan keteraturan jenjang kader, bukan karena ingin mengubah wajah organisasi, melainkan ingin mengembalikan jati diri yang mulai hilang itu.
Tantangan yang dihadapi Soe Hok Gie puluhan tahun lalu sama esensinya dengan yang kita hadapi hari ini. Apakah kita akan diam melihat jati diri IPNW perlahan hilang digantikan oleh ketidakjelasan? Apakah kita akan membiarkan Undang-Undang Organisasi, sistem kaderisasi, dan jenjang karir tetap kabur sehingga melahirkan kader yang bingung arahnya? Atau kita berani berdiri, menegur, dan membangun kembali agar setiap aturan jelas, setiap jalur kaderisasi terstruktur, dan setiap pengabdian mendapat tempat yang adil? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memisahkan sekadar anggota dari manusia baru yang sesungguhnya.
Manusia-manusia baru IPNW yang diimpikan oleh pendiri organisasi dan didambakan oleh semangat Soe Hok Gie adalah sosok yang sederhana namun teguh. Tidak berteriak paling keras, tetapi paling lama bertahan. Tidak paling berkuasa, tetapi paling dipercaya. Tidak paling terkenal, tetapi paling bermanfaat. Ia tidak datang untuk memecah, melainkan untuk menata kembali. Ia tidak datang untuk mengganti, melainkan mengembalikan. Kita tidak perlu menjadi pahlawan sejarah. Cukup menjadi manusia baru yang berani berkata jujur bahwa organisasi kita sedang sakit, lalu berjuang menyembuhkannya dengan kejelasan, keadilan, dan kesetiaan pada jati diri yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, bukan jumlah pengikut yang diingat sejarah, melainkan jumlah mereka yang tidak menjual kebenaran walau harganya mahal, dan berani mengembalikan organisasinya ke jalan yang benar ketika ia mulai tersesat.
Oleh: Sopian Hadi
Edit by: Tim media IPNW Lombok Tengah